Senin, 13 Februari 2017

Gara-gara Presiden, Saya Merasa Keren



JOKOWI pakai jaket bomber, semua orang beli jaket bomber. Jokowi pakai payung biru, semua orang berburu payung biru. Jokowi ikut olahraga panahan, semua orang juga pengen panahan. Lantas, ketika Jokowi membeli buku, apakah orang-orang juga ingin beli buku? Dan membacanya? Entahlah.
Yang pasti, satu dari dua buku yang dibeli Presiden itu adalah buku karya saya. Judulnya: Asal-Usul Kota-kota di Indonesia Tempo Doeloe, (cetakan ke-2, Penerbit Change, 2014). Buku itu dibeli Jokowi pada Rabu sore (8/2) saat berkunjung ke Ambon, sehari menjelang puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2017. Beliau juga membeli satu buku lain karya Dewi Lestari.
Buku saya itu -- setebal 600 halaman --  berisi tentang sejarah penamaan kota-kota di Indonesia. Misalnya Bandung, Bogor, Aceh, Surabaya, Kendari, dll.  Ada 97 kota yang diungkap. Ternyata, nama setiap kota ada riwayatnya atau asal-usulnya. Ada yang dari nama pohon, binatang, ucapan tokoh, bahasa penduduknya, dan sebagainya. Pokoknya menarik deh. Pak Jokowi saja tertarik.
Hingga tadi malam, berita pembelian dua buku itu masih ramai di medsos. Banyak komentar positif terutama dari kalangan pecinta buku dan aktivis gerakan literasi. ’’Wuih, Presiden kita keren… beli buku, bukan belanja perhiasan, seperti pejabat-pejabat lain,’’ komentar seorang netizen.
Saya, sebagai penulisnya, tentu juga merasa keren. Betapa tidak? Tak disangka, buku saya dibeli langsung oleh orang nomor satu di negeri ini. Bahkan foto Pak Jokowi sedang memegang buku tersebut beredar luas di dunia maya, dan menjadi foto utama koran Kompas edisi Kamis kemarin. Inilah kebanggaan seorang penulis,  yang mungkin tak dirasakan oleh orang lain. WA dan BBM saya sampai tadi malam penuh pesan-kesan dari teman-teman.
Ketika foto Pak Jokowi membeli buku itu saya posting di akun Facebook saya, ramai juga orang-orang memberi komentar. Semuanya menilai positif. Aksi Pak Presiden itu diharapkan bisa menular ke masyarakat; orang-orang menjadi gemar membaca buku, bukan hanya sibuk dengan gadget-nya. Ibarat slogan: dunia digital yes, dunia buku dan media cetak juga yes.
Ya, belakangan ini minat orang membaca buku memang menurun. Termasuk juga membaca media cetak, semakin merosot. Tak heran bila oplah koran-koran di Indonesia pun ’terjun bebas.’ Padahal ini berbahaya. Ketika animo publik terhadap minat baca kian menipis, bahkan lenyap, maka orang-orang begitu mudah menjadi korban hoax alias berita bohong. Hoax kini menjadi fenomena sosial yang membodohi masyarakat, menghambat kemajuan bangsa.
Karena itu, aksi Presiden beli buku diharapkan menjadi momentum untuk membangkitkan kembali gerakan literasi di Indonesia. Perbanyaklah membaca, agar kita mendapatkan informasi yang benar, yang dapat dipercaya. Orang yang banyak baca, pasti pengetahuannya luas. Cara berpikirnya pun konstruktif. Ide-ide besar bermunculan.
Buku memang terbilang mahal bahkan masih jadi barang mewah bagi sebagian orang di Indonesia. Tapi, demi pengetahuan dan kecerdasan, harga menjadi relatif. Cabe dan daging yang harganya Rp 150-200 ribu saja dibeli. Bahkan rela antre.  Kenapa buku yang misalnya cuma Rp 50 ribu terasa berat? Kalau makan cabe/daging akan jadi kotoran, sedangkan membaca memperkuat otak dan pikiran.
’’Rakyat kita tergolong perlu diinjeksi lagi untuk urusan baca buku,’’ tegas Jokowi kepada wartawan di Ambon. Betul Pak. Para pejabat harus jadi contoh gemar membaca. Kalau Presidennya gemar membaca, maka rakyatnya juga gemar baca. Tapi kalau Presidennya gemar curhat atau mengeluh, begitulah juga rakyatnya. Hehehe….***  

*Tulisan ini pernah dimuat di koran TheJak edisi 10 Februari 2017