tetanggamu makan bangkai kucingnya
-- WS Rendra
SOSOK Mak Yanti kini menjadi berita menarik di televisi dan koran-koran. Padahal dia hanya seorang pemulung. Tinggalnya pun di pinggiran kampung. Tapi, berkat kemuliaan hati dan perilakunya, kita memandangnya sebagai seorang yang istimewa. Bukan lagi orang yang terpinggirkan. Boleh jadi dia jauh lebih berharga ketimbang seorang artis yang cuma cari sensasi, atau seorang pejabat yang korupsi, atau para capres (calon presiden) yang cuma tebar pesona dan umbar janji.
SOSOK Mak Yanti kini menjadi berita menarik di televisi dan koran-koran. Padahal dia hanya seorang pemulung. Tinggalnya pun di pinggiran kampung. Tapi, berkat kemuliaan hati dan perilakunya, kita memandangnya sebagai seorang yang istimewa. Bukan lagi orang yang terpinggirkan. Boleh jadi dia jauh lebih berharga ketimbang seorang artis yang cuma cari sensasi, atau seorang pejabat yang korupsi, atau para capres (calon presiden) yang cuma tebar pesona dan umbar janji.
Mak Yanti adalah wanita tua dan bersama suaminya menjadi pemulung di Jakarta. Sehari-hari dia mengais botol bekas untuk mencari rezeki guna menyambung hidupnya. Rupanya, Tuhan mengaruniainya jiwa sosial yang tinggi. Dalam kemiskinan, dari hasil memulung, dia mampu menyisihkan uangnya dan selama tiga tahun terkumpul sebanyak Rp 5 juta. Uang itulah yang dibelikan hewan kurban berupa dua ekor kambing dan disumbangkan di sebuah masjid di Tebet, Jakarta Selatan, pada hari Idul Adha lalu. Dia memang ingin memberikan hewan kurban itu, setelah hidup di Jakarta 47 tahun selalu mendapat pemberian daging kambing. Kali ini dia ingin berbagi. Subhanallah...
Aksi Mak Yanti itu terdengar oleh Menteri Sosial Salim Segaf Aljufri. Mensos pun langsung mengunjungi Mak Yanti di rumahnya, dan tidak lupa memberikan uang tunai untuk modal usaha. Mak Yanti bersyukur dikunjungi menteri. Dan, kini ada kabar bagus bahwa sebuah biro perjalanan haji pun berencana memberangkatkan Mak Yanti bersama suaminya beribadah haji ke Tanah Suci. Insya Allah sang pemulung berhati mulia itu akan berangkat tahun depan.
Kisah Mak Yanti bukan hanya menyentuh nurani, tapi juga membuat hati kita iri. Bagaimana tidak? Kita yang mungkin hidup berkecukupan belum tentu bisa melakukan pengorbanan seperti Mak Yanti. Kalau kita banyak uang atau harta lantas memberikan sumbangan bagi kaum dhuafa, itu wajar dan biasa. Semua orang kaya pasti bisa. Tapi sungguh luar biasa bagi seorang Mak Yanti, karena di dalam ketiadaan pun dia masih bisa berbagi. Apakah kita bisa seperti dia? Belum tentu!
Nah, dalam konteks itulah mestinya para pejabat dan calon-calon pejabat berkaca pada kehidupan Mak Yanti. Para pejabat yang sudah hidup enak dan kaya raya, cenderung masih saja menambah kekayaannya. Tak peduli rakyat atau orang di sekelilingnya menderita kelaparan. Hampir semua pejabat di Indonesia hartanya langsung naik tinggi dibanding sebelum menjabat. Jika pertambahannya wajar dan legal, tentu tidak apa-apa. Yang sering terjadi adalah dengan jalan menyelewengkan jabatan dan kekuasaannya. Mereka memperkaya diri dengan jalan korupsi.
Kisah Mak Yanti bukan hanya menyentuh nurani, tapi juga membuat hati kita iri. Bagaimana tidak? Kita yang mungkin hidup berkecukupan belum tentu bisa melakukan pengorbanan seperti Mak Yanti. Kalau kita banyak uang atau harta lantas memberikan sumbangan bagi kaum dhuafa, itu wajar dan biasa. Semua orang kaya pasti bisa. Tapi sungguh luar biasa bagi seorang Mak Yanti, karena di dalam ketiadaan pun dia masih bisa berbagi. Apakah kita bisa seperti dia? Belum tentu!
Nah, dalam konteks itulah mestinya para pejabat dan calon-calon pejabat berkaca pada kehidupan Mak Yanti. Para pejabat yang sudah hidup enak dan kaya raya, cenderung masih saja menambah kekayaannya. Tak peduli rakyat atau orang di sekelilingnya menderita kelaparan. Hampir semua pejabat di Indonesia hartanya langsung naik tinggi dibanding sebelum menjabat. Jika pertambahannya wajar dan legal, tentu tidak apa-apa. Yang sering terjadi adalah dengan jalan menyelewengkan jabatan dan kekuasaannya. Mereka memperkaya diri dengan jalan korupsi.
Begitu pula para bakal capres yang kini sudah ramai bermunculan. Tidakkah tuan-tuan bercermin pada kehidupan dan kemuliaan hati Mak Yanti? Tuan-tuan mengatakan akan mengubah negeri ini bila nanti terpilih. Tuan-tuan berjanji akan memperbaiki hidup orang-orang miskin seperti Mak Yanti. Nyatanya, setelah tuan terpilih, yang terpikir hanya melulu kepentingan pribadi. Tak ada lagi peduli pada orang seperti Mak Yanti.
Kalau benar para capres pro rakyat kecil, tidak harus menunggu terpilih untuk peduli pada kehidupan orang-orang yang bernasib seperti Mak Yanti. Sekarang saja. Sebab, mengatasi kelaparan mereka tak bisa lagi ditunda...
Kebon Jeruk, 16 November 2012
ZHM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar